Monday, October 15, 2018
Ikhtiar Hijrah Melalui Kelas Online Bengkel Diri
Alhamdulillah, saat tulisan ini dibuat, saya sudah menyelesaikan level 1 dan 2 sekolah tersebut.
Pertama kali tau tentang sekolah ini dari postingan Instagram Ummu Balqis.
Saya adalah salah satu follower Ummu sejak lama, dan sangat tertarik ikut sekolah yang digagas oleh Ummu tersebut.
Di sekolah ini, kami tidak hanya diajarkan tentang ilmu syar'i, tetapi juga beberapa soft skill dan time management untuk kehidupan sehari-hari kami.
Sunday, February 7, 2016
24 thoughts ::1st
Monday, December 1, 2014
A Note To Myself
No matter how busy you are, no matter how mad you are, no matter how feeling down you are, still, appreciate people around you.
Say 'thankyou', 'sorry', or 'please', is a must, not an option.
People will never respect you if you've ever made them feel humiliated.
Be nice, be good, or at least be someone that doesnt do bad things.
Appreciate people, or you'll known as someone who doesnt have a good behaviour.
Dont take people for granted.
For me, I simply called it 'manner'.
Wednesday, November 12, 2014
Gini-gini Aja
"Hai! Lagi sibuk apa?"
Pertanyaan favorit orang-orang yang banyak ditujukan pada saya akhir-akhir ini. Dari mulai orang tua, teman-teman dekat, bahkan teman yang sudah bertahun-tahun tak jumpa. Antara cuma penasaran dan benar perhatian terkadang terasa tipis batasnya. Maaf bukan bermaksud suuzon.
Jawaban saya hampir selalu sama, "Hai. Gini-gini aja."
Terlihat ya saya memang malas berbasa-basi dan cerita panjang lebar tentang diri saya. Tapi saya akan dengan mudahnya bercerita pada layar di depan saya saat ini. Ya, terkadang menceritakannya lewat tulisan bisa jauh lebih menenangkan.
"Gini-gini aja" sebenarnya bermakna dalam. Hidup saya jelas tidak lurus-lurus saja. Ada saat berdiri, berlari, terjatuh, berbaring, dan bangkit kembali. Siklus kehidupan. Siklus inilah yang selalu berulang, dan harus selalu berjalan. Siklus inilah yang harus selalu kita jaga keseimbangannya. Jangan sampai terlarut dalam salah satu fase, karena itu membahayakanmu, melenakan. Siklus inilah yang dengan segala perputarannya, dengan segala jatuh-bangunnya, yang saya sebut dengan siklus "gini-gini aja".
Salah satu momen "gini-gini aja" saya, momen yang terjadi minggu lalu. Saat itu, saya sedang bersiap menghadapi ujian presentasi di salah satu perusahaan. Dengan jadwal yang belum pasti, saya tentunya mempersiapkan diri belajar sepenuh hati. Di antara perasaan deg-degan tak karuan, tiba-tiba muncul kabar baik dan buruk. Baiknya, saya mendapat projek kecil-kecilan dengan salah satu teman saya yang berkaitan dengan usaha online shop saya. Buruknya, ratusan pesanan tersebut harus selesai dalam 2 hari.
Baiklah. Saya teringat salah satu pepatah seorang Biksu yang pernah saya baca, mengatakan "one place at one time". Artinya, kita harus meletakkan satu urusan pada satu waktu saja. Sederhana, kita hanya harus fokus pada satu hal saja. Manusia sesungguhnya tidak ditakdirkan untuk multi tasking, bahkan suatu sistem komputer canggih pun sebenarnya melakukan task-task tidak secara konkuren, semua hanya masalah pengaturan waktu. Maafkan kalau saya salah, ini hanyalah secuil ingatan saya tentang pelajaran sistem operasi selama kuliah.
Maka, saya kesampingkan semua urusan presentasi, dan saya fokus mengerjakan projek yang saya dapat. Saya pikirkan semua kemungkinan yang muncul, bagaimana kalau cara A tidak berjalan? Bagaimana kalau cara B tidak akan selesai tepat waktu? Bagaimana kalau cara C ternyata memakan banyak uang?
Di tengah pikiran semrawut, muncul beberapa dering notifikasi di HP saya. Jadwal presentasi sudah keluar. Dan bertepatan dengan deadline projek saya. Dan seketika itu pula saya dikirimkan lembaran form yang harus saya isi saat itu juga, dan pertanyaan-pertanyaan seputar topik presentasi dari teman-teman saya. Saya menyerah. Saya tidak bisa hanya berjalan, saya harus berlari. Saya harus multi tasking.
Harus saya akui, pada akhirnya saya merasa tidak mendapat hasil maksimal. Selalu ada yang dikorbankan, selalu ada yang tidak dijadikan prioritas. Sifat saya yang cenderung perfeksionis membuat saya tidak puas dengan hasil pekerjaan saya sendiri. Pilihan-pilihan yang harus cepat ditentukan, segala kemungkinan yang harus segera diputuskan. Saya merasa terjerambap, meski tidak sampai jatuh.
Kini saya harus bangkit. Di balik hari--hari tersebut, semua pengalaman tersebut merupakan pengalaman pertama untuk saya, itulah hikmahnya. Ujian kehidupan yang luar biasa, menyenangkan sekaligus mendebarkan. Hasilnya? Biarkan Tuhan dan semua pihak lain yang menilai. I've tried my best.
Sekarang saya kembali berjalan. Menapaki kehidupan, melanjutkan siklus "gini-gini aja". Dan serentetan ujian kembali datang. Saya siap! Ingat, jangan terlalu lama berada dalam satu fase. Karena hidup terus berjalan, begitu pun siklusmu. Pastikan kamu siap menghadapi siklus "gini-gini aja" versimu.
Wednesday, October 15, 2014
A self note : Berkontribusilah!
Jika seseorang bertanya kepada anda, apa yang pernah anda berikan untuk masyarakat, apa yang akan anda jawab?
Tentunya, bukan semata-mata yang anda berikan untuk keluarga, kedua orang tua, kakak, adik, suami, istri, anak anda, juga kerabat maupun sahabat. Bukan pula yang anda berikan dalam pekerjaan yang anda miliki, apa pun pekerjaan anda dan apa pun level pekerjaan anda.
Tetapi apa yang sungguh-sungguh telah anda berikan?
Apa kontribusi anda?
Apa karya anda yang telah anda berikan?
Apa perubahan yang sedang atau telah anda perjuangkan?
Apa yang membuat anda layak diingat orang lain?
Mari sejenak pikirkan hal ini. Dan berusahalah untuk berkontribusi. Bukan untuk diri sendiri, bukan untuk penghargaan pribadi, bukan untuk kepentingan segelintir.
Its not about money, its not about ideas, its not about things.
Its about times, its about yourself, its about your acts.
What you do is what matters the most.
Wednesday, October 8, 2014
Make a Better You!
Fenomena ini sejujurnya tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Ternyata melamar pekerjaan dan harap-harap cemas menunggu hasilnya, bisa jadi hal yang sangat membingungkan. Berhubung saat masuk kuliah dulu saya masuk melalui jalur PMDK (atau apapun namanya untuk periode sekarang), saya bisa dikatakan tidak pernah merasakan perasaan deg-degan dan takut seperti ini ketika menunggu suatu pengumuman.
Since its my first time feeling this, I try so hard to go through it. Saya berusaha menepis semua perasaan galau saya karena menunggu ketidakpastian. Beberapa dari perusahaan yang saya lamar ternyata memiliki proses perekrutan yang cukup lama, lebih dari satu bulan. Hal ini tentu saja menimbulkan kegalauan yang lebih lama efeknya, belum lagi kemungkinan lolos yang sangat kecil. Harapan demi harapan begitu mudah hilang, namun juga begitu mudah tergantikan. Selalu ada perasaan optimis setiap kali melihat suatu lowongan baru, namun tak jarang juga perasaan itu hilang di tengah jalan. Semuanya perlu waktu. Pupus sudah harapan ingin mendapatkan pekerjaan yang saya idam-idamkan dalam waktu singkat.
Tetapi hikmah di balik itu semua, sejujurnya saya saat ini memiliki jauh lebih banyak waktu luang, bahkan dibandingkan saat saya masih kuliah dulu. Saya mencoba merefleksikan keinginan-keinginan terpendam dalam diri saya yang selama ini hampir tidak pernah saya realisasikan. Dan ternyata sangat banyak. Selain dari target membaca 5 novel per bulan yang selalu saya canangkan di awal bulan tetapi tidak pernah kesampaian, saya memiliki banyak target-target pribadi lainnya.
Sebagai contoh, hampir setiap hari saya melakukan olahraga yoga. Saya sudah lama memang menyukai olahraga ini, dan saya pernah mengikuti training yoga selama hampir 3 bulan. Sekarang saya mencoba melanjutkannya sendiri di rumah, berbekal tutorial dari aplikasi android, dan sehelai kasur lipat. Contoh kedua, saya punya lebih banyak waktu untuk belajar dan otak-atik sesuatu, mulai dari kerajinan tangan, baca-baca tentang dunia IT (which is my major), belajar bahasa inggris dengan membaca artikel berbahasa Inggris sampai seharian, dan juga menulis. Khusus yang terakhir, sejujurnya menulis memang hobi saya sedari dulu, meskipun tulisan lebih sering dituangkan di notes HP. Salah satu target saya yang belum kesampaian adalah jalan-jalan sendirian ke suatu tempat yang totally baru, bukan lagi kawasan Jabodetabek dan sekitarnya. Semua aktivitas ini bisa dikatakan random but exciting. My days turn to be different than it used to. Saya merasa saya seperti seseorang yang baru, yang belajar sesuatu yang baru setiap harinya, sesuai dengan keinginan dan perasaan saya sendiri.
Semua aktivitas inilah yang sedikit banyak membuat saya lupa, bahwa status saya sebenarnya penggangguran. Semua perasaan galau yang hinggap sejujurnya memang menganggu hari-hari saya. But it really doesn't matter, because I have a time for myself, to know myself better, to have a quality time with my soul. Tidak masalah saya menunggu lama untuk suatu pekerjaan, selama saya menunggu hal itu terjadi dengan menetapkan target-target lain untuk diri saya sendiri, adalah pikiran saya yang selalu saya camkan. Saya berusaha untuk mendapatkan pekerjaan terbaik, dan proses menunggu ini saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk mengerjakan hal-hal lain yang positif. Belajar dan belajar setiap hari, saya berusaha membuat diri saya menjadi lebih baik.
My point is, every second of life is still counts to make a better you, to add value for yourself. The more valuable you are, I believe another good things will happen to you. For me, I want to get a good job, I want to be paid to do something I love. And I'm willing to put some hard work to make it real, as soon as possible.



















